Ngomongin pengeluaran di Jerman: sebulan butuh berapa?

Hey you guys!

Kayaknya selama gue tinggal di Jerman dua tahun, belom pernah ngomongin total pengeluaran ya? Baiklah mari kita kupas tuntas pengeluaran Kemmy tiap bulan berapa dan buat apa aja. Sebelum gue mulai gue mau disclaimer ya, pengeluaran bulanan kalian ini bisa beda-beda tergantung dari gaya hidup dan kota kalian. Kota tempat tinggal ngaruh Kem? Oh jelas. Kota kota besar kayak München (Munich) misalnya itu pastinya lebih mahal daripada Kiel.

Sebelum gue jabarin? jembrengin? eh? iya itu pokoknya, tentang pengeluaran gue, gue mau curhat dikit kalau tahun pertama rasanya lebih mencekam (?) rasanya miskin banget aja gitu gua wkwkw ga berani jajan sumpah. Kalo mau makan “mewah” cuma sanggup beli döner. Kenapa gue ngerasa lebih ga punya duit waktu tahun pertama? Karena blocked account. Apaan tuh Kem? Cek ke posting gue yang sebelumnya ya:

Mengurus Visa Studi Jerman: Membuat Blocked Account di Fintiba

Mengurus VISA Studi Jerman: Submit Dokumen

Kuliah di Luar Negeri: Satu Bulan di Jerman – Apa aja yang harus diurus?

Nah itu ya kira-kira post sebelumnya udah bahas cara buat dan apa aja yang diurus buat apply visa studi dan pas sampe sini.

Oke lanjut. Jadi kenapa blocked account bikin gue merana selama setahun? Menurut gue ada 2 alasan:

  1. Uang turun sebulan sekali. Iya jadi di akun bank gue yang aktif itu gue cuma megang cukup buat 2 bulan (waktu pengiriman pertama, mereka kirim ke gue jatah 2 bulan). Ya gimana gue ga hemat-hemat kan ya :”) Apalagi masih awal awal di Jerman dan mental IDR konversi ke euro masih super duper kuat. Ambyar. Ga berani jajan. Semua mahal sodara sodara
  2. 8000 bukan 10,000. Hah? Maksudnya? Jadi, pas gue apply visa studi Jerman di Indonesia, aturan dari mereka masih deposit 8000 sekian euro itu karena gue apply Agustus. Seinget gue aturan 10,000 itu berlaku pas Septembernya. Pas di Indo sih ngerasa untung ya kurang 2 ribu yang dikirim, sampe sini takut duit ga cukup wkwkwk. Again, mental konversiku sodara-sodara.

Terus berarti 8000 gak cukup ya? Kalo buat gue, dengan gaya hidup gue dan tinggal di Kiel, itu masih cukup. Tapi kayaknya cukup kalo gue masih tinggal di asrama gue yang dulu wwkwkw. Kalo 8000 ngepas yaaa idup pas pas banget sih tapi ya kayaknya wkwkwk.

Panjang ye Kem pembukanya wkwkw. Oke baiklah mari kita kupas Kemmy jajan apaan tiap bulan. Oh iya ini gue pake budget gue ya jadi pengeluaran gue biasanya kurang dari segitu (kecuali kalo gue lagi pengen boros wkwkwk). Buat biaya yang udah fixed gue tandain bintang ya

Kategori (essential)Total/bulan
Sewa rumah*     265,09 € 
Asuransi AOK*     111,45 € 
GEZ/Rundfunkbeitrag*       18,93 € 
Belanja mingguan     100,00 € 
Peralatan bersih-bersih         8,00 € 
Personal care (hair, body, skin)       25,33 € 
Charity*         5,00 € 
Toko Asia       40,00 € 
Pulsa       15,00 € 
iCloud*         9,99 € 
Laundry         7,00 € 
Total     605,80 € 
Pengeluaran bulanan yang penting/pasti keluar

Di table pengeluaran penting di atas ada “Charity” atau amal, ini emang buat gue penting aja jadi kalau kalian ga nyumbang ke suatu organisasi ya gausah dimasukkin yaaa.

Kategori (tambahan)Total/bulan
Makan bareng       35,00 € 
Shopping/hiburan       40,00 € 
Games       20,00 € 
Total       95,00 € 
Pengeluaran tambahan biar gue happy dong

Nah kalo table kedua ini pengeluaran tambahan yang sebetulnya ga perlu perlu amat tapi ya w kan juga mau senang senang gituuuh.

Jadi total per bulan berapa sih? Kalo total dari dua table itu digabung, jadinya pengeluaran per bulan gue adalah 700,80 euro atau 8.409,56 euro per tahun.

Eitsss! Inget itu belum masukkin semester fee yaa. Kalau misalnya dimasukkin bayar kuliah, anggaplah kita bayar 250 per semester, jadinya per tahun biaya yang kalian butuhin adalah 8909,56 euro.

Gue mau ingetin lagi buat gak jadiin budget bulanan gue sebagai satu-satunya sumber perhitungan kalian dalam itung-itung biaya hidup di Jerman. Sekali lagi, gaya hidup dan kota tinggal mempengaruhi ya. Kalo kalian liat, biaya seneng-seneng gue ga banyak. Karena gue disini ga kerja dan rely on my parents every year (walau duit gue selalu sisa juga sih tiap tahun wkwkw) alias w ga enak dong sister bruder idup pake duit orang tua terus gue foya foya kan ga mungkin ya. Selain itu gue juga selalu masak di rumah makanya restoran pun ga gue masukin ke budget gua karena jarang banget gue makan keluar. Oh sama satu lagi, gue tinggal di asrama (walau modelnya single apartment) jadi gue emang ga bayar listrik sama air. Jadi ya, biaya rumah gue bisa jadi lebih murah dibanding yang lain.

Ah iya, untuk mempermudah pencatatat pengeluaran gue pake aplikasi di hape namanya Money Lover (sumpah ga disponsorin ya gua). Ada free nya kok jadi kalian bisa pake tanpa bayar. Bedanya sama yang beli (ini cuma one time purchase ya bukan subscription btw), cuma jumlah dompet aja. Kalo ga salah yang free cuma dapet 2 dompet: misal kalian pake untuk catet pengeluaran uang tunai sama di bank. Kalo gue pake untuk pencatatatan uang di Indonesia sama di Jerman makanya ambil yang berbayar.

Nah gimana? Udah dapet gambaran ga kira-kira butuh berapa buat idup di jerman sebagai mahasiswa? Atau kalian punya pengalaman sendiri untuk biaya hidup di Jerman atau di luar negeri? Lemme know in the comments 😀

Cheers,

Kemmy

Books: The Rape of Nanking

Hey you guys!

My interests in reading is pretty much like my consistency. Consistently inconsistent. I used to love reading personal development then book about human relationships and psychology. Well, I guess my interests now changed into history.

I recently just finished a book titled The Rape of Nanking (Goodreads review here) by Iris Chang. So basically the story is about the Nanking (Nanjing) Massacre in 1937. I would say that this book is not a book that you just grab and expect a easy light reading. But is the book worth it? Oh yes.

Now, let me tell you what I found in this book and why it’s really great.

Just a bit disclaimer though. So, I am a fast reader. I usually read 200pages book in one day, well two days max. This book is around 200 pages and I spent one week to finish reading the book? Why? Well I’ll tell you why: it is brutal. Basically the story itself is about the history of Nanking from three point of views: Japan, Nanking and the International Safety Camp. Apart from its vivid description and explanation of the whole situation in Nanking (and pictures by the way), I find this book really great because you can feel the raw emotions while reading the book. The writing is very detailed, so yeah you can vividly feel the horror.

Again, this is not an easy book to read but it is very worth reading! My whole emotions were in shambled while reading the book: the disgust, the horror, the hatred, the despair and the anger well, I can feel all of those emotions at the same time. If you wanna know more about history of World War II, especially between Japan and China, this is one of the books that you should read. Or if you just love history, go read this book!

Lemme know if you decided to give this book a go or if you have read this book. I would love to discuss it with you 🙂

Cheers,

Kemmy

2 Tahun di Jerman: Kuliahnya kok gak selesai-selesai Kem?

Hey you guys!

Gue mau mulai post ini dengan tertawa: hahaha. Udah gitu aja. Wk. Apaan sih.

Jadiiii ceritanya gue udah 2 tahun di Jerman per September akhir kemarin. Horeee. Terus udah lulus? Oh tidak belum lulus aku sodara-sodara. Kok gitu? Wkwkwk. Dih apaan sih ditanya malah ketawa gitu.

Oke mari kita mulai dengan kesan pesan idup di LN 2 tahun.

Pertama-tama, gue udah ga pulang satu setengah tahun ke Indo. Kenapa? COVID di Indo masih parah dan ya aing gak boleh pulang sama orang tua :”) yah sedih. Apakah aku sudah dibuang :”””””) mak aku kangen makanan Indo dan segala 24/7 toko dan emol Jakarta. Itu kucing-kucing laknat di rumah pasti udah lupa gua :””””””D ah. Sedih.

Okeeeehh 2 tahun di Jerman gimana jadinya? Ya gitu, nano-nano rasanya: campur aduk. Wk. Masih? Ya masih :”) emang lu kata idup di luar mulai semua dari 0 ga ada keluarga, ga kenal siapa siapa gampang? Wkwkwkw tentu tidak Ferguso. Winter tahun lalu COVID di Jerman lumayan parah sampe banyak pantangan. Aku yang tadinya super high achiever dan aktif (iya ini kata-kata dari temen gue btw): socializing jalan, olahraga minimal 3 kali seminggu dan belajar tiap hari tapi masih ngerasa 24 jam lama amat yak ngapain lagi ya gua, yak itu semua hilang. Kembalilah sekarang aku menjadi Kemmy yang tinggal di kamar males keluar wkwkwk.

Bagaimana dengan perkuliahan? Sekarang gue masih nulis thesis gue: Fisheries Cultural Value in Western Baltic Sea. Apaan tuh? Auk ah gamau jelasin thesis disini ntar aja gue mau post terpisah di categories Books and Learning. Tapi w mau curhat dikit yaaa. Jadi topik gue ini ternyata hampir ga ada yang neliti makanya professor gue super tertarik, eits ga cuma doi. Satu research group yang entah ada berapa biji itu tertarik. Bahkan mau dipublikasi sama mereka. Mantap. Tekanannya mantulity. Lemme quote one of my supervisors statement:

Kemmy, Marie (my first supervisor who’s a professor) is really interested in your topic. The people in this floor is interested in your research. We want to published the results of your thesis

My second supervisor

Ahahaha.

Auk.

On the other hand though, gue tau hal ini actually mempermudah gua. Kenapa? Karena mereka tertarik, gue bakalan dibantu buat ngerjain thesis. Kedua, kalau gue nantinya memutuskan untuk jadi scientist/researcher/ambil PhD, publikasi ini juga bisa membantu gua. Sebetulnya nih ya, gue juga agak berharap if I do a great job in this research, they will employ me. Jadi ya banyak positifnya walau ada pressure juga ya tetep wkwkwk

Terus Kem, jadinya kenapa belum lulus? Susah ya?

Actually, ini adalah keinginan gue untuk menunda kelulusan. Kenapa? Karena gue merasa masih banyak hal yang bisa gue dapetin di kampus: privilege sebagai student dan ilmunya. Semester lalu gue memutuskan buat ambil side research project, buat apa? Literally just for fun. Yes, I am that excited to learn new things.

Apakah susah kuliah di Jerman?

Kayaknya dulu gue pernah bahas ini sih, tapi menurut gue ya gampang gampang susah. Tentunya beda dong system edukasi disini dan tipe/kultur pengajar disini. Jadi ya tetep butch effort lebih. Tapi, bisa ga sih lulus tepat waktu? Bisa banget. Banyak kok temen-temen gue yang lulus tepat waktu disini. Jadi kalau kalian, in the future, mutusin mau belajar di Jerman, jangan takut 😀

Untuk saat ini plan gue adalah nyelesaiin thesis sambil cari kerja untuk tahun depan. Nyari kerja dari sekarang? Karena gue gatau berapa lama it will take me to actually find a job, so why wait? Menurut gue better start now gitu daripada tepat. Dan gue sadar akan kelemahan gue yang belum fluent ngomong Jerman. Jadi yaa, satu lagi kegiatan gue: lancarin bahasa Jerman. Tapi gue sekarang juga belajar Korea sih, kenapa? Ya itu sih emang salah satu keinginan gue: bisa 5 bahasa.

Jadiiii intinya idup 2 tahun di Jerman adalah nano nano. Iya masih sama kayak tahun lalu wkwkkw yang beda cuma progressnya dan plan gue untuk kedepannya 😀

Cheers,

Kemmy