2 Tahun di Jerman: Kuliahnya kok gak selesai-selesai Kem?

Hey you guys!

Gue mau mulai post ini dengan tertawa: hahaha. Udah gitu aja. Wk. Apaan sih.

Jadiiii ceritanya gue udah 2 tahun di Jerman per September akhir kemarin. Horeee. Terus udah lulus? Oh tidak belum lulus aku sodara-sodara. Kok gitu? Wkwkwk. Dih apaan sih ditanya malah ketawa gitu.

Oke mari kita mulai dengan kesan pesan idup di LN 2 tahun.

Pertama-tama, gue udah ga pulang satu setengah tahun ke Indo. Kenapa? COVID di Indo masih parah dan ya aing gak boleh pulang sama orang tua :”) yah sedih. Apakah aku sudah dibuang :”””””) mak aku kangen makanan Indo dan segala 24/7 toko dan emol Jakarta. Itu kucing-kucing laknat di rumah pasti udah lupa gua :””””””D ah. Sedih.

Okeeeehh 2 tahun di Jerman gimana jadinya? Ya gitu, nano-nano rasanya: campur aduk. Wk. Masih? Ya masih :”) emang lu kata idup di luar mulai semua dari 0 ga ada keluarga, ga kenal siapa siapa gampang? Wkwkwkw tentu tidak Ferguso. Winter tahun lalu COVID di Jerman lumayan parah sampe banyak pantangan. Aku yang tadinya super high achiever dan aktif (iya ini kata-kata dari temen gue btw): socializing jalan, olahraga minimal 3 kali seminggu dan belajar tiap hari tapi masih ngerasa 24 jam lama amat yak ngapain lagi ya gua, yak itu semua hilang. Kembalilah sekarang aku menjadi Kemmy yang tinggal di kamar males keluar wkwkwk.

Bagaimana dengan perkuliahan? Sekarang gue masih nulis thesis gue: Fisheries Cultural Value in Western Baltic Sea. Apaan tuh? Auk ah gamau jelasin thesis disini ntar aja gue mau post terpisah di categories Books and Learning. Tapi w mau curhat dikit yaaa. Jadi topik gue ini ternyata hampir ga ada yang neliti makanya professor gue super tertarik, eits ga cuma doi. Satu research group yang entah ada berapa biji itu tertarik. Bahkan mau dipublikasi sama mereka. Mantap. Tekanannya mantulity. Lemme quote one of my supervisors statement:

Kemmy, Marie (my first supervisor who’s a professor) is really interested in your topic. The people in this floor is interested in your research. We want to published the results of your thesis

My second supervisor

Ahahaha.

Auk.

On the other hand though, gue tau hal ini actually mempermudah gua. Kenapa? Karena mereka tertarik, gue bakalan dibantu buat ngerjain thesis. Kedua, kalau gue nantinya memutuskan untuk jadi scientist/researcher/ambil PhD, publikasi ini juga bisa membantu gua. Sebetulnya nih ya, gue juga agak berharap if I do a great job in this research, they will employ me. Jadi ya banyak positifnya walau ada pressure juga ya tetep wkwkwk

Terus Kem, jadinya kenapa belum lulus? Susah ya?

Actually, ini adalah keinginan gue untuk menunda kelulusan. Kenapa? Karena gue merasa masih banyak hal yang bisa gue dapetin di kampus: privilege sebagai student dan ilmunya. Semester lalu gue memutuskan buat ambil side research project, buat apa? Literally just for fun. Yes, I am that excited to learn new things.

Apakah susah kuliah di Jerman?

Kayaknya dulu gue pernah bahas ini sih, tapi menurut gue ya gampang gampang susah. Tentunya beda dong system edukasi disini dan tipe/kultur pengajar disini. Jadi ya tetep butch effort lebih. Tapi, bisa ga sih lulus tepat waktu? Bisa banget. Banyak kok temen-temen gue yang lulus tepat waktu disini. Jadi kalau kalian, in the future, mutusin mau belajar di Jerman, jangan takut 😀

Untuk saat ini plan gue adalah nyelesaiin thesis sambil cari kerja untuk tahun depan. Nyari kerja dari sekarang? Karena gue gatau berapa lama it will take me to actually find a job, so why wait? Menurut gue better start now gitu daripada tepat. Dan gue sadar akan kelemahan gue yang belum fluent ngomong Jerman. Jadi yaa, satu lagi kegiatan gue: lancarin bahasa Jerman. Tapi gue sekarang juga belajar Korea sih, kenapa? Ya itu sih emang salah satu keinginan gue: bisa 5 bahasa.

Jadiiii intinya idup 2 tahun di Jerman adalah nano nano. Iya masih sama kayak tahun lalu wkwkkw yang beda cuma progressnya dan plan gue untuk kedepannya 😀

Cheers,

Kemmy